Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Terapkan IT Pada Anak Berkebutuhan Khusus

Puluhan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dari Yayasan Cahaya Bangsa Khatulistiwa Pontianak, Senin (2/4), beraudiensi dengan Walikota Pontianak, Sutarmidji, di Media Centre Pemkot Pontianak.
Dalam arahannya, Walikota meminta kepada pihak sekolah, terutama para guru agar membuat metode pembelajaran yang penuh inovasi. ABK, kata Walikota, banyak jenisnya. Jadi modul pembelajaran juga harus banyak dimodifikasi sebagai acuan untuk proses belajar mengajar.
Menurut dia, ada juga ABK yang cerdas dan bisa mandiri. "Bahkan, ada ABK yang berhasil mendapatkan gelar Insinyur. Nah, inilah yang menjadi tantangan pihak sekolah, sehingga anak didiknya bisa mandiri dan cerdas," ucap Sutarmidji.
Dia berharap, agar Yayasan Cahaya Bangsa Khatulistiwa Pontianak makin maju lagi seperti yayasan sekolah ABK di Semarang yang bisa membuat terobosan untuk anak berkebutuhan khusus.  
Dalam audiensi ini, Walikota juga memberi kesempatan kepada para ABK untuk tanya jawab dengan Walikota. Hal itu pun tidak disia-siakan Alif Dwi Cahyo siswa Kelas II SMK Cahaya Bangsa Khatulistiwa Pontianak. Alif lebih banyak menceritakan metode pembelajaran di sekolah tempat dia menimba ilmu itu. "Kami selalu diajarkan dengan sistem multimedia. Siswa diajarkan komputer dengan baik dan benar. Diajarkan mengerjakan soal-soal UN lewat internet. Diajarkan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Diajarkan keterampilan menjahit dan menyulam serta ada kegiatan ekstrakulikuler berupa renang dan futsal," beber Alif dengan polosnya.
Selain itu, tambah Alif, di Cahaya Bangsa Khatulistiwa ada terapi  motorik siswa.
Mendengar penjelasan dari Alif, Walikota menyatakan, bahwa anak-anak berkebutuhan khusus ini dalam penggunaan Informasi Teknologi (IT) nya lebih canggih dari dirinya. "Saya saja tidak ada jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Kalau kalian punya akun jejaring sosial, berarti penguasaan IT nya bagus. Bahkan Alif ini bisa jadi Ustadz," kata Walikota.
Sementara itu, Kepala Sekolah Cahaya Bangsa Khatulistiwa, Najmuddin, mengatakan, pihaknya sengaja menerapkan sistem pembelajaran online kepada siswanya. "Kami juga mewajibkan semua siswa yang baru masuk untuk memiliki laptop sebagai media pembelajaran," jelas Najmuddin.
Secara teori, jelas dia, struktur otak anak autis adalah komputer. "Makanya kami menggunakan sistem IT. Anak-anak autis tidak perlu diajarkan lagi cara mengoperasional komputer, sebab mereka sudah otodidak," ujar dia.
Dia menambahkan, pihaknya menggunakan kurikulum modifikasi sesuai kebutuhan anak didiknya. (jm)

Manfaatkan Komputer Untuk Pengetahuan

Sebanyak tiga sekolah yakni SMP Negeri 2, SMA Muhammadiyah 1 dan SMA Muhammadiyah 2 Pontianak, Rabu (28/3) menerima bantuan komputer untuk pembelajaran dari Bank Mandiri. Bantuan diserahkan secara simbolis di SMP Negeri 2 Pontianak, Jalan Selayar. Bantuan komputer ini merupakan salah satu program corporate social responsibility (CSR) dari Bank Mandiri bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Bantuan masing-masing senilai Rp 37 juta ini terdiri dari lima perangkat komputer, printer dan eksternal hard disk.
            Wakil Walikota Pontianak, Paryadi mengungkapkan apresiasinya kepada Bank Mandiri yang telah kesekian kalinya memberikan bantuan bagi sekolah-sekolah yang ada di Kota Pontianak. “Mudah-mudahan semua sekolah di Kota Pontianak ini kita harapkan pengenalan teknologi komputerisasi bisa berjalan maksimal dan optimal,” ujar Paryadi.
            Dia juga meminta, siswa-siswi sekolah yang menerima bantuan komputer ini untuk memanfaatkannya secara maksimal dengan mencari dan menambah pengetahuan serta mengupdate informasi-informasi dan ilmu-ilmu pengetahuan baru, tak terkecuali juga bagi guru-guru sebagai tenaga pengajar di sekolah tersebut. “Kepada siswa dan siswi juga diharapkan dengan bantuan komputer ini bisa membantu proses pembelajaran lebih efektif dalam pendidikan,” katanya.
            Untuk penguatan pengenalan teknologi komputer ini, Paryadi minta kepada guru-guru agar sekali-sekali memberikan tugas melalui komputer supaya anak didik lebih peduli terhadap dunia teknologi  dan informasi.
            Senada dengan Wakil Walikota, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi berpesan kepada sekolah yang menerima bantuan ini bisa dimanfaatkan secara optimal. “Kepada anak-anak didik yang mempergunakan bantuan tersebut agar memanfaatkannya sebaik-baiknya sehingga bantuan yang diberikan ini betul-betul bisa bermakna dan bermanfaat,” pesannya.
            Mulyadi berharap, ini merupakan awal yang baik untuk perkembangan dunia pendidikan di Kota Pontianak dari pihak swasta maupun BUMN yang ikut peduli memberikan sumbangsihnya.
            Sementara itu, Area Manager Bank Mandiri, Hotman Nainggolan mengatakan, program CSR Bank Mandiri ini merupakan program Mandiri Peduli Pendidikan. “Yang bertujuan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin masa depan yang siap bersaing secara global,” jelasnya.
            Dia berharap, program ini dapat lebih memacu semangat para siswa sebagai calon pemimpin masa depan agar siap menghadapi persaingan baik secara nasional maupun secara global.
            Diakuinya, kendati bantuan yang diberikan ini belum sebesar harapan dari anak didik maupun sekolah, namun kedepan pihaknya akan berupaya memberikan bantuan yang lebih baik lagi. “Kami berharap juga apa yang kami sumbangkan ini merupakan bantuan yang sedikit akan meringankan atau pun membantu mempercepat proses belajar mengajar di sekolah-sekolah yang memperoleh bantuan dari Bank Mandiri sehingga sekolah-sekolah ini kita harapkan mampu menghasilkan generasi muda terbaik dan mempunyai kompetensi  dan handal dalam masa depan,” pungkasnya. (jm)

Utusan Kota Pontianak Raih Duta Terdisiplin

Kendati utusan Kota Pontianak yang mengikuti Lomba Dokter Kecil Mahir Gizi Tingkat Nasional tidak meraih peringkat terbaik, namun Ananda Khalif Pramudya Gibran, siswa SD Negeri 03 Kecamatan Pontianak Selatan ini berhasil meraih penghargaan sebagai Duta Terdisiplin dalam lomba itu. “Saya lebih senang dia mendapatkan penghargaan peserta paling disiplin karena ini merupakan suatu parameter untuk menunjukkan anak-anak kita ini bisa tampil disiplin seperti itu,” ujar Walikota Pontianak, Sutarmidji, Jum’at (17/2) usai menyerahkan penghargaan kepada beberapa anak yang menjadi peserta Lomba Dokter Kecil Mahir Gizi Tingkat Nasional yang digelar bulan Januari lalu.
            Disiplin, menurut dia, sangat penting karena merupakan modal dasar dalam melakukan segala hal sehingga apa yang diharapkan bisa terlaksana dengan baik. “Jadi kita mendorong kepada anak-anak kita, seluruh pegawai untuk terus mendisiplinkan diri. Tanpa disiplin, mustahil kita bisa melakukan pekerjaan yang sangat banyak ini dengan cepat, teratur serta terarah,” katanya.
            Kedepannya, Sutarmidji berharap ada anak-anak Kota Pontianak yang bisa meraih banyak penghargaan, baik itu terdisiplin, tercerdas, terbaik dan lainnya. “Dalam lomba apapun kita berupaya menjadi yang terbaik. Yakinkan pada diri kita bahwa anak-anak kita bisa, kemampuan intelektual dari anak-anak Pontianak itu tidak kalah dengan anak-anak manapun di Indonesia ini dan saya yakin itu,” ucapnya optimis.
            Dia juga menargetkan, dalam ujian nasional ini harus ada yang masuk sepuluh besar dari Kota Pontianak.  Jika tidak, maka harus ada evaluasi besar-besaran untuk meraih sepuluh besar itu. “Itu parameter untuk tolok ukur pendidikan kita, kita kan sudah mengarah wajib belajar 12 tahun, infrastruktur pendidikan relatif baik. Nah, masa’ sih kita kalah dengan daerah lain,” pungkasnya.
Senada dengan Walikota, Kepala Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Mulyadi mengungkapkan rasa senangnya karena utusan Kota Pontianak dalam Lomba Dokter Kecil Mahir Gizi Tingkat Nasional berhasil meraih penghargaan sebagai Duta Terdisiplin. “Berarti secara tidak langsung itu wujud pendidikan karakter pada anak-anak ini sudah tertanam,” timpalnya.
Mulyadi menilai, karakter yang ada pada anak-anak merupakan perilaku teladan yang patut dicontoh sehingga memotivasi anak-anak lainnya untuk bisa menerapkan perilaku disiplin pada dirinya masing-masing.
 Sementara itu, Duta Terdisiplin Lomba Dokter Kecil Mahir Gizi Tingkat Nasional, Ananda Khalif Pramudya Gibran, mengatakan dirinya tidak pernah menyangka akan terpilih sebagai duta terdisiplin dalam lomba itu karena apa yang dilakukan saat mengikuti lomba sudah menjadi kebiasaannya di rumah. “Saya hanya mengikuti apa yang sudah ditetapkan oleh LO, kapan saat harus berkumpul dan peraturan-peraturan lainnya,” pungkasnya. (jm)

Sutarmidji Optimis Untan Bisa Sejajar

Walikota Pontianak, Sutarmidji menilai, Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak di usia lebih dari setengah abad ini telah menghasilkan alumni-alumni yang mampu membangun Kalimantan Barat (Kalbar) umumnya, maupun Kota Pontianak khususnya. “Dengan usia lebih dari setengah abad itu, Untan telah maju sangat pesat dan sekarang sudah memiliki sembilan fakultas, yang hampir keseluruhan fakultas itu alumninya mampu untuk membangun Kalbar maupun Kota Pontianak,” ujar Sutarmidji, Selasa (7/2) di ruang kerjanya.
            Sebagai salah satu alumnus Untan ini, Sutarmidji mengakui, perkembangan Untan sangat luar biasa apalagi Untan akan membuka jurusan Bahasa Mandarin. “Ini menunjukkan bahwa Untan mampu membaca kebutuhan bagi perkembangan investasi Kota Pontianak,” kata alumnus Fakultas Hukum Untan ini.
            Pencapaian Millennium Development Goals (MDGs) dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  Kalbar, tambah dia, sektor kesehatan sangat penting menjadi perhatian dan Untan juga sudah melahirkan beberapa dokter untuk mengisi kekurangan dokter yang ada di Kalbar.
            Sutarmidji juga menilai, kualitas dari alumni Untan ini sangat baik, tidak ketinggalan dari universitas-universitas lainnya di Indonesia. “Bahkan bisa lebih baik dibandingkan alumni universitas-universitas besar lainnya di Indonesia,” ucapnya.
            Dia menambahkan, banyak alumni-alumni Untan yang bisa mencapai jenjang pendidikan yang paling tinggi dengan prestasi yang luar biasa. “Jadi, Untan merupakan universitas yang sangat kita banggakan di Kalbar dan saya yakin kedepan Untan bisa melebihi kualitasnya dengan universitas-universitas besar yang ada di Indonesia, bahkan mungkin mampu menyaingi beberapa universitas yang ada di ASEAN khususnya di tingkat fakultas-fakultas tertentu seperti MIPA, kedokteran dan nantinya jurusan Bahasa Mandarin,” kata Sutarmidji optimis.
            Dia berharap, Untan hendaknya harus terus berbenah dan untuk mensejajarkan Untan dengan univeristas-universitas besar di Indonesia bahkan di ASEAN, semua civitas akademika harus saling bahu-membahu untuk mencapai target itu. “Dan di bawah kepemimpinan rektor sekarang, Prof DR Thamrin Usman, saya yakin Untan akan mengalami perkembangan yang luar biasa dalam beberapa tahun ke depan,” ungkapnya.
            Selain itu, Walikota juga berharap Untan terus menjalin kerja sama dengan seluruh pemerintah daerah yang ada di Kalbar dan mengetahui kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan pemerintah daerah. “Sehingga Untan mampu menempatkan diri sebagai gudangnya SDM yang dibutuhkan dalam membangun daerah yang ada di Kalbar ini,” pungkasnya. (jm)
           

Jadilah Generasi Muda Berkarakter

Sebanyak 20 unit tempat sampah organik dan anorganik, 5 unit gerobak arco dan  2 unit komposter, Selasa (24/1) diserahkan oleh Bank Mandiri sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) kepada SMA Negeri (SMAN) 4 Pontianak. Bantuan ini merupakan bantuan hibah program Bina Lingkungan Bank Mandiri sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Bantuan ini diserahkan langsung oleh Manager Bank Mandiri Pontianak, Agus Yana kepada Kepala Sekolah SMAN 4 Pontianak, Fatmawati dan disaksikan oleh Walikota Pontianak, Sutarmidji.
            Dalam kesempatan itu, Sutarmidji minta kepada kepala sekolah untuk memperhatikan murid-muridnya agar menjadi generasi muda yang berkarakter. “Kalau sekolah tidak peduli dengan lingkungan, anak didiknya juga akan tumbuh menjadi anak yang berkarakter tidak peduli dengan lingkungan,” tutur Sutarmidji.
            Dia menilai, menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang baik tidak hanya SDM yang asal memahami ilmu pengetahuan dan pintar saja, melainkan juga harus punya karakter yang baik, berwawasan lingkungan dan lain sebagainya. “Nah, kalau sekolah sudah mampu mendidik anaknya untuk peduli terhadap lingkungan, maka semakin mendekatkan pada karakter dasar manusia yakni kejujuran. Kalau karakter dasar itu sudah hilang, akan hancur semua,” paparnya.
            Dia juga minta agar lingkungan SMAN 4 ini ditanami pohon-pohon yang mempunyai daya serap terhadap karbondioksida. Selain itu, penanaman pohon atau penghijauan juga berdampak pada pengurangan pemanasan global. “Jangan hanya asal tanam. Harusnya di dalam halaman ini ditanami pohon trembesi karena bisa bertahan seratus tahun,” ungkap Sutarmidji.
            Sementara itu, Manager Bank Mandiri Pontianak, Agus Yana, mengatakan, kegiatan Mandiri Bina Lingkungan ini merupakan salah satu implementasi CSR dari Bank Mandiri yaitu kemandirian edukasi dengan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. “Antara lain melalui perbaikan kualitas sarana pendidikan, perluasan kesempatan belajar serta pemberian edukasi kepada pelajar dan mahasiswa,” ujarnya.
Dia berharap, kegiatan ini mendapat dukungan dari semua pihak dan akan membawa hasil yang lebih bernilai dan bermanfaat bagi semua.
Kepala Sekolah SMAN 4, Fatmawati menyambut baik adanya bantuan Mandiri Bina Lingkungan ini karena manfaatnya sangat besar bagi sekolah yang terpilih sebagai sekolah Adiwiyata tingkat nasional pada tahun 2011. “Bantuan ini manfaatnya sangat besar bagi kami dalam rangka mewujudkan kembali impian kami terpilih menjadi sekolah Adiwiyata,” ungkapnya.
Kendati tidak mudah untuk terpilih menjadi sekolah Adiwiyata tingkat nasional, lanjut dia, namun dengan komitmen dan dukungan semua pihak termasuk stakeholder di SMAN 4, diyakininya lingkungan merupakan satu diantara yang harus dikembangkan di sekolah ini. “Karena kami yakin akan ada korelasi antara lingkungan dengan prestasi yang ada di sekolah ini, baik prestasi akademik maupun non akademik,” jelasnya.
Selain terpilih sebagai sekolah Adiwiyata tahun 2011 lalu, prestasi SMAN 4 di bidang lingkungan juga berhasil meraih juara dua kepala sekolah berwawasan lingkungan tingkat nasional. (jm)

Pemerataan Pendidikan di Daerah Pinggiran

Walikota Pontianak, Sutarmidji menilai pembangunan SMA Negeri 8 yang terletak di Jalan Ampera masih perlu ditambah ruang kelasnya untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan daerah pinggiran Kota Pontianak. “Minimal sembilan ruang kelas lagi supaya kita bisa memenuhi pertumbuhan dan perkembangan daerah pinggiran agar tidak menimbulkan kemacetan-kemacetan jika sekolah ditempatkan di pusat kota,” ujar Sutarmidji saat meresmikan gedung SMA Negeri 8, Senin (9/1) pagi di Jalan Ampera Pontianak. Peresmian ini juga dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Pontianak, Hartono Azas.
            Pembangunan SMA Negeri 8 ini melalui empat tahap, mulai dari tahun 2008 dan berakhir tahun 2011 dengan total anggaran sebesar Rp 7 milyar lebih. Bangunan ini terdiri dari dua lantai dan dilengkapi dengan sarana-sarana lain yang menunjang pelaksanaan kegiatan di lingkungan SMA Negeri 8 Pontianak.
            Selain itu, SMA Negeri 5 di Pontianak Utara dan Sekolah Terpadu di Kecamatan Pontianak Timur rencananya juga akan ditambah ruang kelasnya. “Saya masih belum terpikir untuk menempatkan sekolah negeri di Pontianak Tenggara karena dari sisi jumlah penduduk masih bisa dipenuhi oleh sekolah-sekolah yang ada di Kecamatan Pontianak Selatan,” tuturnya.
            Dalam kesempatan itu, Sutarmidji menegaskan, dirinya tidak mau lagi mendengar persoalan uang komite dan lain sebagainya. “Saya tidak mau dengar lagi ada ribut-ribut masalah uang komite, uang ini, uang itu dan lain sebagainya. Harusnya itu lebih rasional. Makanya memilih pengurus komite itu, kalau menurut saya, jangan orang kaya nanti dikiranya semua orang sama dengan dia,” tegasnya.
            Untuk itu, Sutarmidji minta kepada Dinas Pendidikan Kota Pontianak untuk membuat pemetaan terhadap berapa jumlah dana komite yang diperoleh oleh tiap-tiap SMP, SMA maupun SMK setiap tahunnya secara total. “Sehingga nanti kita perlu siapkan dana pendampingan supaya itu bisa ditekan seminim mungkin,” ungkapnya.
            Walikota juga menekankan, sekolah-sekolah diminta untuk peka terhadap siswa-siswinya agar jangan lagi sampai terjadi ada anak yang putus sekolah karena alasan biaya. “Kalau putus sekolah karena alasan biaya, tidak boleh ada di Kota Pontianak. Apapun atau siapapun dia, kalau karena biaya tidak boleh ada. Tapi kalau alasan kawin atau terpaksa harus dikawinkan, itu bukan urusan saya sebagai walikota,” tukasnya. (12)
           

Guru-guru Brunei Darussalam Kunjungi Pontianak

Rombongan persatuan guru-guru asal Brunei Darussalam, Selasa (6/12) malam, melakukan lawatan yang diterima secara resmi oleh Wakil Walikota Pontianak, Paryadi di Aula rumah jabatannya. “Lawatan ini membuktikan bahwa selain untuk mempererat tali silaturrahmi juga memberikan kepercayaan bagi masyarakat luar bahwa Kota Pontianak khususnya dan Kalimantan Barat umumnya cukup baik,” ujar Paryadi mengawali sambutannya dihadapan guru-guru Brunei Darussalam dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Pontianak. Kunjungan persatuan guru-guru Brunei Darussalam ini untuk mengikuti pertandingan persahabatan bulu tangkis dengan PGRI.
            Menurut dia, antara masyarakat Brunei Darussalam dan Indonesia, khususnya masyarakat Kota Pontianak, tidak ada permasalahan karena hubungan yang terjalin antara masyarakat kedua negara cukup akrab. “Apalagi guru-guru baik yang ada di Brunei maupun di sini bisa menjadi penyambung, saling bertukar pikiran dan memberikan masukan,” tuturnya.
            Paryadi mengakui, negara Brunei Darussalam sebagai negara yang termasuk makmur dalam perekonomian, banyak hal yang bisa dipelajari dari negara itu diantaranya bagaimana membangun peranan masyarakatnya.
            Dia berharap, dengan terjalinnya hubungan yang baik antara guru-guru baik dari Brunei Darussalam maupun PGRI bisa memperkuat, terutama dalam membangun intelektual bangsa.
            Paryadi juga mengajak para investor yang ada di Brunei Darussalam, untuk berinvestasi di Kota Pontianak sebagai kota perdagangan dan jasa. “Kita mengundang melalui rombongan yang hadir pada malam ini, apabila punya mitra-mitra bisnis untuk membangun Kota Pontianak dengan berinvestasi di sini khususnya dalam bidang perdagangan dan jasa,” katanya.
            Sementara itu, Ketua Rombongan Persatuan Guru-guru Brunei Darussalam, Antin mengungkapkan rasa senang dan terharunya dengan sambutan Pemerintah Kota Pontianak atas kunjungan sekaligus pertandingan persahabatan bulu tangkis antar kedua negara. “Saya merasa terharu karena sebenarnya Bapak Wakil Walikota ada tugas ke daerah namun beliau bersedia dan meluangkan waktunya untuk menerima kunjungan kami ke sini,” ungkap Antin.
            Dia menambahkan, kunjungan rombongan yang terdiri dari guru-guru Brunei Darussalam ini bertujuan untuk mempererat tali silaturrahmi, khususnya dengan warga PGRI serta menjalin keakraban melalui pertandingan persahabatan bulu tangkis antar guru-guru kedua negara. (jm)

Tanamkan Nasionalisme dan Patriotisme Sejak Dini

Untuk menimbulkan semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan anak-anak, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Organisasi Penyelenggaran Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI) Kota Pontianak, Sabtu (12/11) menggelar lomba lagu perjuangan Tingkat TK se Kota Pontianak. Lomba ini diikuti sebanyak 38 kelompok dari seluruh TK yang ada di Kota Pontianak. “Dengan adanya lomba ini diharapkan dapat menimbulkan semangat nasionalisme dan patriotisme anak sejak dini,” ujar Tita Selati Sundari M Akip, Ketua DPC GOPTKI Kota Pontianak.
            Menurut dia, anak adalah harapan masa depan dan sebagai generasi penerus masa yang akan datang. Untuk itu sebagai orang tua, pengelola maupun pendidik perlu sedini mungkin nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa Indonesia. “Harapan kita, anak dapat mengerti, paham dan selalu mengenal jasa-jasa pendahulu kita,” tutur istri Sekretaris Daerah Kota Pontianak, M Akip.
            Selain itu, lanjutnya lagi, ajang lomba menyanyikan lagu-lagu perjuangan ini juga sangat bagus untuk membentuk kepribadian anak agar percaya diri dan berani tampil di depan khalayak ramai.
            Tita menjelaskan, lagu-lagu perjuangan sudah hampir ditinggalkan oleh anak-anak usia dini karena pergeseran waktu dan globalisasi teknologi yang berkembang begitu pesatnya, sehingga anak-anak cenderung memilih lagu-lagu dewasa dibandingkan dengan lagu-lagu perjuangan. “Maka dengan digelarnya lomba lagu perjuangan ini, kita selaku orang tua, pengelola maupun pendidik sudah berbuat sedini mungkin mengenalkan kepada anak-anak di Kota Pontianak dan diharapkan anak-anak Kota Pontianak mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan anak-anak kota lainnya,” tutupnya. (jm)

Followship

 
 

© Bluberry Template Copyright by Kota Pontianak

Template by Blogger Templates | Blog-HowToTricks