Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Bangun Kepercayaan Masyarakat Terhadap Koperasi

Wakil Walikota Pontianak, Paryadi mengungkapkan, untuk membangun kepercayaan di masyarakat terhadap koperasi harus mulai dilakukan secara perlahan, paling tidak melalui kelompok-kelompok yang mulai bangkit, contoh dalam bidang industri rumah tangga. “Industri kecil ini harus kita dorong untuk berhimpun untuk memperkuat koperasi,” ujar Paryadi saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) bersama koperasi se Kota Pontianak tahun buku 2011, Selasa (18/1) di Hotel Grand Mahkota Pontianak. Rapat ini diikuti oleh seluruh pengurus koperasi se Kota Pontianak.
            Diakuinya, untuk meretas sedikit demi sedikit persoalan koperasi ini tidak bisa secara drastis tetapi dilakukan sedikit demi sedikit perubahan terhadap koperasi. Untuk membangun koperasi tidak hanya bersifat umum tetapi bisa dibentuk koperasi yang bersifat kekhususan. “Bisa dimulai dari industri-industri kecil yang dihimpun, mana yang saling berhubungan kemudian membentuk koperasi di lingkungan usaha yang digelutinya untuk penguatan,” ucapnya.
Dia prihatin adanya pandangan masyarakat terhadap koperasi seolah-olah sebagai sesuatu yang mesti dihindari sehingga penggunaan kata-kata koperasi pada badan ini cenderung ditinggalkan. Banyak badan usaha yang sistem dan manajemennya sama persis dengan koperasi namun berbeda penggunaan bahasa pada nama yang digunakannya. “Nah ini yang tentunya bagi penggiat koperasi harus maksimal menjelaskan kepada masyarakat. Mungkin dengan melakukan pembenahan dan perubahan pada koperasi. Ini tidak terlepas dari upaya bersama dari para pelaku usaha, pelaku koperasi dan penggiat koperasi,” katanya.
            Menurut Paryadi, pada tahun 2000-an jumlah koperasi mencapai 600-an. Namun sekarang yang ada hanya tinggal 100 sampai 200-an koperasi. “Itu pun yang paling banyak koperasi pegawai negeri dan koperasi sekolahan,” ungkapnya prihatin.
            Dia berharap, keberadaan koperasi tidak hanya mengharapkan dana bergulir dari pemerintah saja tetapi bagaimana koperasi itu bisa berkembang dan bermanfaat bagi perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
            Dalam kesempatan itu, Wakil Walikota minta kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Pontianak untuk membenahi koperasi-koperasi yang ada di Kota Pontianak. “Ini bukanlah persoalan yang ringan tetapi suatu tugas berat. Dan kalau kita sukses merubah pandangan atau paradigma masyarakat terhadap koperasi ini maka masyarakat akan melihat dan merasakan kerja nyata dari Disperindagkop dan UKM Kota Pontianak,” tuturnya. (jm)

Pontianak Raih Juara Pertama GKM Tingkat Nasional

Kota Pontianak berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional dengan meraih juara I dalam Konvensi Gugus Kendali Mutu (GKM) di Balikpapan pada tanggal 14 November lalu. GKM adalah suatu sistem dalam manajemen usaha yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan mutu produksi dalam rangka meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan.
Adalah Industri Kecil Menengah (IKM) Bintang Kalbar binaan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop dan UMKM) Kota Pontianak yang mengharumkan nama Kota Pontianak sebagai juara I untuk kategori model Palda (4 langkah 2 alat) dengan produk Minuman Khas Lidah Buaya. Konvensi GKM ini menampilkan inovasi mesin produksi tepat guna yang berhasil meningkatkan kapasitas produksi sehingga dapat meningkatkan nilai jual.
Menurut Sekretaris IKM Bintang Kalbar, Iman Tarmidi, mengatakan, pada saat Konvensi GKM digelar Bintang Kalbar mampu menyisihkan 32 provinsi untuk menjadi yang terbaik. Dalam kompetisi tersebut tim Bintang Kalbar mempresentasikan mengenai kelebihan atau unggulan dari alat pemotong multifungsi lidah buaya. “Alat ini bisa digunakan untuk memotong dan mengupas lidah buaya, selain itu waktunya juga lebih efisien dan kuantitas juga meningkat,” ujar Iman, Jum’at (25/11) saat audiensi di ruang kerja Kepala Disperindagkop dan UMKM Kota Pontianak.
Dia menjelaskan, alat multifungsi ini bisa digunakan mulai dari awal pengerjaan sampai packing semuanya bisa menggunakan alat tersebut. Alat ini diciptakan sendiri karena terinspirasi dari keluhan-keluhan karyawan saat produksi. Sebelumnya dalam satu hari lidah buaya diproduksi sebanyak 2 ton sedangkan pisau yang digunakan menggunakan pisau biasa yang memakan waktu cukup lama dalam proses produksi. “Dan akhirnya keluhan-keluhan itu muncul, ada yang bilang   menggunakan pisau biasa waktu pulang kerja lama, ada jari yang terluka dan produksinya tidak banyak. Namun setelah dicoba-coba terus akhirnya terciptalah alat multifungsi di mana pisau pemotong yang digunakan berbahan stainless dan modal yang dikeluarkan untuk membuat alat tersebut sebesar Rp 2 juta. Dengan  alat ini lebih memudahkan karyawan untuk bekerja,” jelasnya.
Sebelum diciptakan alat multifungsi ini, waktu yang dibutuhkan dalam memproduksi lidah buaya dengan menggunakan pisau biasa selama 76 menit dan hanya menghasilkan 10 kg. Namun setelah menggunakan alat multifungsi hanya memakan waktu 24 menit dan bisa menghasilkan produksi lidah buaya 18,6 kg.  Bentuk pisau ini sesuai dengan bentuk atau kontur pelepah lidah buaya sehingga memudahkan saat melakukan pengupasan dan pemotongan. Selain itu kulit lidah buaya juga bisa dijadikan kerajinan tas dan souvenir. “Dengan menggunakan alat itu kulit yang ada pada lidah buaya tidak ada yang tertinggal,” terangnya.
Dia menambahkan, dengan menggunakan alat tersebut tidak lagi memerlukan alat bantu dan penggunaanya juga mudah serta hasil pemotongannya pun seragam. Rencananya, menurut Iman, akan diproduksi masal melalui koperasi dan bagi IKM yang berminat ingin membeli alat tersebut bisa langsung datang ke Komplek Sentral Agribisnis, Jalan Budi Utomo Pontianak.
Di tempat yang sama, Kepala Disperindagkop dan UMKM Kota Pontianak, Ayuharro mengatakan akan mendaftarkan alat tersebut ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum dan HAM. Setelah alat ini didaftarkan maka rencananya akan diproduksi secara massal. “Alat ini bisa dibeli satu set atau pisaunya saja dan ini kembali lagi kepada konsumen,” pungkasnya. (12)

Pemkot Dukung Industri Kreatif Bidang Pariwisata

Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak mendukung program pemerintah pusat berupa industri kreatif kaitannya dengan dunia pariwisata guna meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. “Jadi, industri kreatif itu seperti souvenir dan kerajinan-kerajinan tradisional yang sudah diinovasi. Dan semua itu menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan pendapatan bagi masyarakat khususnya home industry,” ujar Walikota Pontianak, Sutarmidji saat membuka secara resmi Pameran Pontianak Fair 2011, Kamis (20/10) di Gedung Pontianak Convention Centre (PCC).
Sutarmidji menambahkan, pihaknya akan terus memberi dukungan dengan menggelar pameran-pameran seperti ini. Tujuannya adalah untuk memasarkan dan memperkenalkan produk-produk industri kreatif dan produk-produk unggulan dari daerah-daerah khususnya Kota Pontianak.
Dikatakan Sutarmidji, Kota Pontianak tidak memiliki sumber daya alam dan hanya memiliki sumber daya manusia yang jumlahnya sekitar 630 ribu. “Namun saya bersyukur, pendapatan asli daerah Kota Pontianak dalam jangka tiga tahun terakhir meningkat 200 persen, dari Rp 56 milyar sekarang sudah tembus ke angka Rp 165 milyar,” ungkapnya.
Walikota menilai, hal ini merupakan suatu pertumbuhan yang sangat pesat tanpa harus menciptakan pajak-pajak maupun retribusi baru. Bahkan, kecenderungan banyak retribusi perizinan yang sudah dihapusnya. “Tahun ini saja saya sudah menghapus sekitar 71 perizinan. Dari 98 perizinan yang ada, sekarang hanya tinggal 27 perizinan. Kita akan evaluasi terus kalau perlu perizinan itu tidak sampai 15 jenis perizinan,” paparnya.
Menurutnya, dari sejumlah jenis perizinan yang dihapus, yang paling dominan adalah perizinan di bidang pariwisata karena dinilai bisa menghambat investasi khususnya di bidang pariwisata.
Namun diakuinya, kendati pembiayaan pembangunan kota begitu penting tetapi bukan berarti PAD menjadi fokus utama pemerintahannya. “Yang paling penting adalah menciptakan bagaimana tersedianya lapangan kerja yang baik dan orang bisa memasarkan hasil kerjanya karena semua itulah yang akan meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat,” pungkasnya.
Pontianak Fair ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak ke 240 dan diikuti oleh 135 peserta yang memenuhi stand, baik di luar maupun di dalam gedung PCC dengan memamerkan produk-produk unggulan khususnya yang berasal dari Kota Pontianak. Pameran seperti ini akan digelar secara rutin setiap tahunnya. (jm)

Followship

 
 

© Bluberry Template Copyright by Kota Pontianak

Template by Blogger Templates | Blog-HowToTricks