Maknai Hari Pahlawan Dengan Perangi Kemiskinan

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memaknai Hari Pahlawan yang telah gugur di medan perang, salah satunya memerangi kemiskinan. “Kalau dulu para pahlawan berperang dengan senjata melawan penjajah, sekarang saatnya kita sebagai generasi penerus bangsa berperang melawan kemiskinan,” ujar Wakil Walikota Pontianak, Paryadi usai melakukan tabur bunga memperingati Hari Pahlawan di Pangkalan TNI AL, Kamis (10/11). Penaburan bunga ini merupakan rangkaian upacara memperingati Hari Pahlawan di lingkungan TNI AL. Sebagai inspektur upacara, Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Pontianak, Kolonel Laut Arsyad Abdullah dan dihadiri jajaran Muspida.
            Menurut Paryadi, banyak yang bisa dilakukan khususnya oleh generasi muda dalam mengisi kemerdekaan dan memaknai nilai-nilai juang para pahlawan dengan hal-hal yang positif. Misalnya, dengan menciptakan lapangan kerja. “Sekarang bukan jamannya lagi generasi muda berpangku tangan, generasi muda harus cerdas dan jeli memanfaatkan peluang yang ada. Ciptakan lapangan kerja dan tanamkan jiwa entrepreneur, buat kreasi dan inovasi dalam dunia usaha,” katanya.
            Dia berharap, generasi muda tidak selalu berpikir untuk menjadi karyawan swasta maupun pegawai negeri sipil tetapi hendaknya menciptakan peluang usaha atau berwirausaha sehingga bisa memperoleh penghasilan dari usaha yang digeluti. “Ajak teman-teman di sekitar lingkungan untuk bersama-sama menciptakan peluang usaha. Dengan demikian paling tidak sudah membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran,” tutur Paryadi.
            Dia menambahkan, saat ini pemerintah sedang gencar menggalakkan industri kreatif bidang pariwisata. Ini merupakan peluang besar bagi generasi muda untuk  berkreasi dan berinovasi dalam industri kreatif kaitannya dengan pariwisata. “Industri kreatif ini seperti souvenir maupun kerajinan-kerajinan tradisional yang sudah diinovasi. Ini juga merupakan upaya untuk meningkatkan pendapatan bagi masyarakat khususnya home industry,” paparnya.
            Selain itu, Paryadi juga mengingatkan kepada generasi muda untuk menghindari hal-hal yang negatif seperti penyalahgunaan narkoba, seks bebas dan lainnya yang bisa merugikan generasi itu sendiri dan bangsa ini. “Hindari penyalahgunaan narkoba karena itu hanya akan menghancurkan diri kita dan keluarga. Mari kita isi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan kita dengan hal-hal yang positif agar bangsa ini bisa lebih maju,” tutupnya. (jm)

Gerakan Sayang Ibu Cegah AKI dan AKB

Berkurangnya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu manfaat dari Gerakan Sayang Ibu (GSI). Hal ini dikatakan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekretariat Derah Kota Pontianak, Kasri Sukirno saat penilaian Lomba Kecamatan Sayang Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan Barat, Senin (7/10) di Posko Bersama Kecamatan Sayang Ibu dan PKK KB Kesehatan di Komplek Kantor Camat Pontianak Tenggara. Kecamatan Pontianak Tenggara merupakan kecamatan yang terpilih untuk mengikuti Lomba Kecamatan Sayang Ibu Tingkat provinsi. Acara penilaian ini dihadiri Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak, Lismaryani Sutarmidji dan tim penilai.
            Lebih lanjut, Kasri mengatakan pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam mencegah kematian dan kesakitan ibu hamil, melahirkan dan nipas semakin meningkat. “Hal ini ditandai dengan terbentuknya tabungan ibu bersalin (tabulin) dan dana sosial bersalin (dasolin), ambulan desa serta pondok sayang ibu dan lain-lain,” tuturnya.
            Menurut Kasri, GSI ini bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas melalui program penurunan kematian ibu. “Dewasa ini ruang lingkup gerakan sayang ibu tidak lagi semata-mata terfokus pada penurunan kematian ibu, namun diharapkan gerakan sayang ibu berkembang,” ujar Kasri.
            Dia menambahkan, GSI meliputi beberapa program diantaranya peningkatan posisi penentuan dalam masyarakat, peningkatan derajat kesehatan perempuan terutama kesehatan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya, mengurangi kematian ibu akibat kehamilan dan menurunkan kematian bayi.
            Sementara itu, Sri Jumiadatin, Ketua Tim Penilai menjelaskan, peserta GSI tahun ini diikuti oleh delapan kabupaten/kota se Kalbar. “Jadi kedelapan peserta ini akan kami terapkan penilaian dengan variabel-variabel yang juga kami nilai di sini,” jelas Sri.
            Lomba ini merupakan suatu upaya untuk mendorong dan memotivasi pelaksana-pelaksana di lapangan. “Artinya, bagaimana pokja pusat GSI di kabupaten/kota bekerja di kecamatan, di kelurahan dan lain sebagainya, bagaimana ibu-ibu PKK juga sharing pemikiran di dalamnya,” imbuhnya.
Dia berharap, melalui kegiatan ini nantinya tidak terjadi kematian ibu dalam kondisi hamil dan melahirkan atau dalam kondisi nipas yang sia-sia. Program GSI di kecamatan ini tidak hanya untuk mencegah kematian ibu hamil atau bayi tetapi juga dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di seluruh Indonesia.
Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BP2KB) Kota Pontianak, Darmanelly mengungkapkan angka kematian ibu dan bayi di Kota Pontianak terendah di Kalbar dikarenakan didukung sarana dan prasarana yang memadai. “Juga didukung akses jalan yang memadai. Jadi, tidak ada alasan bagi ibu-ibu untuk datang ke layanan kesehatan,” katanya.
Dia menghimbau kepada ibu-ibu hamil yang terkendala masalah biaya melahirkan, bisa memanfaatkan Jaminan Persalinan (Jampersal) di layanan kesehatan pemerintah atau di layanan kesehatan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. (jm)

Hayati Makna Yang Terkandung Dalam Kurban

Kurban bukan hanya sekedar penyembelihan hewan akan tetapi bagaimana umat Islam menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini diungkapkan Walikota Pontianak, Sutarmidji usai melaksanakan Shalat Idul Adha, Minggu (6/10)  di halaman depan Makodam. Wakil Walikota Pontianak, Paryadi, jajaran Muspida dan Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak serta masyarakat memenuhi seluruh lapangan untuk melaksanakan Shalat Idul Adha berjamaah.
            Sutarmidji menambahkan, dalam memaknai kurban setiap umat Islam hendaknya memerangi nafsu jahat yang ada pada diri masing-masing serta kembali kepada ajaran-ajaran yang dianjurkan Allah, SWT dan menjauhi larangan-laranganNya. “Saya berharap umat Islam di Kota Pontianak semakin memahami makna dari Hari Raya Idul Kurban ini dalam implementasi kehidupannya sehari-hari sehingga sikap toleransi, saling menghargai dan sikap saling menolong itu tetap tumbuh dalam hati sanubari mereka,” ujar Sutarmidji.
            Dia menambahkan, jumlah hewan kurban tahun ini meningkat dari tahun lalu. Tahun ini jumlah hewan kurban di Kota Pontianak terdiri dari 681 ekor sapi dan 682 ekor kambing. Sementara Pemkot Pontianak menyumbang 24 ekor sapi yang dikumpulkan dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
            Kendati daging kurban boleh diberikan kepada siapa pun, namun Sutarmidji mengingatkan agar pemberian daging kurban lebih mengutamakan fakir miskin. “Kalau diberikan kepada yang berhak itu lebih diutamakan, maka fakir miskin tidak akan ada. Terkecuali, mereka memang tujuannya untuk mengumpulkan daging kurban, pergi ke sana dan ke sini,” paparnya.
            Sementara itu, Khatib Shalat Id, Syarif dalam khutbahnya yang berjudul “Haji Itu Mengenal”, menjelaskan mengenal yang dimaksudkan adalah mengenal diri sendiri yang sedang terperangkap dalam manusia. “Dengan mengenal diri kita yang sebenar diri, kita mengenal Nur Allah yang sesungguhnya kita temui dalam berhaji,” jelas Syarif.
            Makna puncak perayaan Hari Raya Idul Adha menurutnya adalah ibadah kurban untuk menyembelih insan yang berwujud sifat kufur. “Itulah puncak makna Idul Adha, jika sifat-sifat kufur itu tetap bercokol maka tandanya kurban yang dilakukan tidak ditilik oleh Allah walau sebanyak apapun,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Walikota menyerahkan secara simbolis satu ekor sapi kepada pengurus Masjid Jami’. (jm)

Followship

 
 

© Bluberry Template Copyright by Kota Pontianak

Template by Blogger Templates | Blog-HowToTricks